#36 Fase 2.2. - Fokus menghilangkan Pemicu untuk Langkah Pertama Menghentikan Berbagai Kebiasaan Sia-sia atau Buruk
Terkadang, sangat simpel kita hanya mengenyahkan Pemicu kebiasaan buruk atau sia-sia, lalu selesai. Dan disini ada 3 cara untuk mengenyahkan Pemicu.
✓ Singkirkan Pemicu✓ Hindari Pemicu
✓ Abaikan Pemicu
Singkirkan Pemicu
Menyingkirkan Pemicu adalah;pilihan yang paling sederhana untuk menghentikan kebiasaan sia-sia, buruk atau yang tak diinginkan. Dan, cara terbaik adalah mendesain ulang lingkungan kita. Misalkan:
✓ Surat Al-Qur'an yang sulit dihafal, atau mengulang hafalan, karena sering ada yang salah.
- Pemicu: tidak ingat huruf-huruf tulisan pada Al-Qur'an.
- Singkirkan: sering membaca,
- dengan melihat huruf-huruf pada yang sering salah. Karena saraf sensorik mata sangat mempengaruhi bawah sadar. Sedang hafalan memang tersimpan pada bawah sadar.
- Pampangkan surat yang sering salah di tempat yang kita sering lihat.
- Atau membawa Al-Qur'an kecil yang bisa dibawa kemanapun, kapanpun.
- Sewaktu-waktu bisa kita buka, dan kita lihat mana ayat yang kita belum atau masih kurang hafal.
✓ Menghafal doa-doa, terkadang terlewat pada kegiatan terkait.
- Pemicu: tak adanya Pemicu Konteks atau Pemicu Tindakan
- Singkirkan: dengan mengadakan Pemicu Konteks atau digabung dengan Pemicu Tindakan, berupa tulisan di lokasi-lokasi mesti membaca doa.
✓ Membaca buku terjemahan, bahasa Indonesia yang "leter leks", sehingga sulit dipahami.
- Pemicu: terjemahan bukan dengan makna
- Singkirkan: mencari makna sebenarnya dengan referensi lainnya. Mencari dan membelinya jika perlu. Atau buka Google Translate.
✓ Menganggap remeh menulis hanya beberapa kalimat faedah.
- Pemicu: tidak PD, jika hanya menyalin. Ingin bisa menulis artikel keren.
- Singkirkan: berusaha belajar dari menyalin dan menyalin, belajar menulis di kalbu.
✓ Sulit mendengar kajian, karena kemampuan memori HP kecil, kurang rapi file-filenya.
- Pemicu: Memori kecil
- Singkirkan: membuat channel pribadi di Telegram, mengelompokkan file-file 1 tema kajian. Karena jika Telegram kita tutup, memori hp tidak menyimpan file yang kita download untuk didengarkan.
✓ Sulit hadir kajian, karena kurang waktu, sibuk, tidak membawa buku catatan, tidak punya kitab, capek dan ngantuk, dsbnya.
- Pemicu: kesibukan
- Singkirkan: kurangi kesibukan tak bermanfaat, belajar di rumah dengan waktu-waktu disesuaikan.
✓ Sulit bangun sebelum subuh
- Pemicu: tidur terlalu malam, ngobrol yang tak manfaat.
- Singkirkan: tidur cepat, pasang alarm, kurangi ngobrol tak manfaat.
✓ Tak mengira ada trik ramuan perilaku Selagi pada kebiasaan belajar.
- Pemicu: kurang menghargai waktu, belum terbiasa.
- Singkirkan: menghargai waktu, biasakan ketika belajar, bersendirian, dengan menghafal, mendengar, membaca, atau menulis sekalipun.
Kiaskan untuk kendala-kendala kebiasaan buruk atau sia-sia yang lain pada bab sebelum ini. Bisa dengan ramuan perilaku:
Setelah /Selagi aku ..., aku (akan) ..., lalu aku bersyukur mengucap, "Alhamdulillah".
Misalkan,
> Setelah aku menutup pintu pulang shalat Isya berjamaah, aku (akan) langsung istirahat.
> Setelah hafalan Al-Qur'an ku salah, aku (akan) membacanya dengan melihat langsung mushaf dan mengingat-ingat huruf yang salah dan lokasinya.
> Selagi berjalan ke masjid, aku (akan) mengulang-ngulang hafalan surat ...
> Dan sebagainya.
Ketika mendesain untuk menghilangkan Pemicu, kita bisa menyingkirkan Pemicu secara teratur, ataupun boleh jadi melakukan perilaku sekali menyingkirkan Pemicu, jika memang kebutuhannya hanya satu kali tersebut untuk selamanya.
Selanjutnya kita akan bahas bagaimana menghindari dan mengabaikan Pemicu dalam menghentikan kebiasaan buruk atau sia-sia dalam menumbuhkan kebiasaan belajar dan menulis.
Hindari Pemicu
Jika kita tak mampu menyingkirkan Pemicu dari kebiasaan buruk atau sia-sia, cobalah kita menghindari Pemicu tersebut.Cara-cara menghindarinya adalah:
✓ Jangan pergi ke tempat-tempat yang memunculkan Pemicu kebiasaan buruk atau sia-sia bagi kita.✓ Jangan bersama orang-orang yang akan memicu kebiasaan buruk atau sia-sia bagi kita.✓ Jangan biarkan orang-orang meletakkan hal-hal yang menimbulkan Pemicu kebiasaan buruk atau sia-sia di sekeliling kita.✓ Hindari media (sosial) yang menimbulkan Pemicu bagi kebiasaan buruk atau sia-sia bagi kita.
Namun, mungkin kita tak bisa menghindari semua situasi yang memicu kebiasaan buruk atau sia-sia. Maka, pilihan terakhir dengan mengabaikan Pemicu tersebut.
Abaikan Pemicu
Pilihan terakhir kita, jika sulit untuk menghindari Pemicu, kita bisa abaikan Pemicu. Hanya saja, ini sangat bergantung pada tekad dan Motivasi, bahkan butuh Kemampuan yang cukup. Jika tidak, akan timbul masalah.Walaupun kita terpicu untuk melakukan hasrat buruk atau sia-sia tersebut,
- kita bisa bertahan dan menolaknya.
- Hanya saja, terkadang kita mampu melakukannya beberapa kali, sampai akhirnya tekad dan Motivasi kita melemah.
- Kalbu kita didera, akhirnya lama-lama goncang.
- Akhirnya kita menyerah.
- Hal ini merupakan fakta-fakta yang realitasnya terjadi.
Kecuali kalbu kita,
- terbiasa dipenuhi dzikrullah, maka benteng kalbu kita - insya Allah - tak akan goyah.
- Dan, berusaha mengendalikan sifat-sifat buruk pada diri.
- Yang ada hanya bersitan-bersitan setan yang tidak terlalu pengaruh. Dengan izin dan hidayah taufik dari Allah Subhana wa ta'ala.
Mengabaikan pemicu kebiasaan buruk,
- mungkin bukan solusi terbaik untuk jangka panjang.
- Namun, jika kita memiliki tekad baja dan sanggup melakukannya,
- maka pandai-pandailah bersyukur karena Allah telah memberi hidayah taufik kepada kita ketika kita sukses mengabaikan Pemicu
- dan meninggalkan kebiasaan buruk atau sia-sia tersebut.
Itulah bagaimana kita bisa menggagalkan kebiasaan buruk atau sia-sia dari sisi Pemicunya. Pertama singkirkan, jika tidak bisa hindari, masih tak bisa juga, abaikan.
Jika salah satunya efektif, itu bagus sekali. Kita sudah dapat menemukan solusi paling sederhana untuk merancang agar kebiasaan buruk atau sia-sia spesifik agar enyah dari kehidupan kita.
Hanya saja, terkait menggagalkan Pemicu kebiasaan buruk atau sia-sia terkait menumbuhkan kebiasaan belajar, itu kondisional. Terkadang ada yang bisa kita hentikan dengan menyingkirkan Pemicunya, adapula yang mesti kita hindari seperti orang-orang (teman-teman) yang menjadi Pemicu, ada pula yang harus kita abaikan asalkan kita memiliki motivasi yang kuat.
Jadi? kita musti lihat kasus perkasusnya.
Akan tetapi, jika kita tak bisa utak-atik dari segi Pemicunya, maka langkah berikutnya kita coba beralih ke variabel berikutnya dalam Model Perilaku, yaitu Kemampuan. Kita akan bahas pada bab-bab berikutnya.
Jika salah satunya efektif, itu bagus sekali. Kita sudah dapat menemukan solusi paling sederhana untuk merancang agar kebiasaan buruk atau sia-sia spesifik agar enyah dari kehidupan kita.
Hanya saja, terkait menggagalkan Pemicu kebiasaan buruk atau sia-sia terkait menumbuhkan kebiasaan belajar, itu kondisional. Terkadang ada yang bisa kita hentikan dengan menyingkirkan Pemicunya, adapula yang mesti kita hindari seperti orang-orang (teman-teman) yang menjadi Pemicu, ada pula yang harus kita abaikan asalkan kita memiliki motivasi yang kuat.
Jadi? kita musti lihat kasus perkasusnya.
Akan tetapi, jika kita tak bisa utak-atik dari segi Pemicunya, maka langkah berikutnya kita coba beralih ke variabel berikutnya dalam Model Perilaku, yaitu Kemampuan. Kita akan bahas pada bab-bab berikutnya.
***
Posting Komentar untuk "#36 Fase 2.2. - Fokus menghilangkan Pemicu untuk Langkah Pertama Menghentikan Berbagai Kebiasaan Sia-sia atau Buruk"
Posting Komentar