#23 Tambatan
Tambatan
Tambatan haruslah sesuatu yang terjadi secara konsisten dalam kehidupan kita. Tak peduli apakah begitu berantakan hidup kita, kita pasti mempunyai banyak rutinitas yang terjadi cukup konsisten untuk digunakan sebagai Tambatan.
Dan, menurut pengamatan, umumnya orang-orang biasanya memiliki rutinitas paling banyak di pagi hari. Pagi hari seolah-olah bagaikan tanah subur, untuk menanam dan menumbuhkan kebiasaan baru. Ya, karena di pagi hari biasanya masih sedikit hal terjadi secara mendadak. Sehingga di pagi hari, kejadian-kejadian biasanya berulang sesuai rutinitas tanpa ada gangguan.
Sedangkan, dengan berjalannya hari, rutinitas bisa kacau dengan mudahnya. Dan, begitu satu rutinitas kacau, rutinitas lainnya ikut kacau. Karena, seperti telah disampaikan sebelumnya rutinitas itu seperti runutan algoritma. Satu salah, yang lain terbawa-bawa. Seperti misalnya,
✓ menjemput anak di sekolah tertunda, karena rapat yang terlambat.✓ terlambat pulang bersama istri, setelah hari yang penuh rintangan, akhirnya kelelahan. Padahal, rencana makan malam, istri masak sesuatu yang telah direncanakan bersama keluarga, akhirnya beli makanan jadi.✓ dan banyak hal terjadi, ketika hari semakin matang.
Namun demikian, masih banyak waktu seperti sore dan malam hari yang bisa dimanfaatkan.
Berikut, contoh Tambatan yang umum pada waktu yang berbeda-beda, dan ini dianggap telah membaca doa sehari-hari, jika ada doa pada aktivitas terkait, sehingga di daftar ini tidak perlu dituliskan lagi.
Rutinitas Pagi hari
✓ Setelah menurunkan kaki ke lantai dari tempat tidur, aku (akan) ...✓ Setelah bangun dan duduk di tempat tidur, aku (akan) ...✓ Setelah mematikan alarm, aku (akan) ...✓ Setelah merapikan tempat tidur, aku (akan) ...✓ Setelah buang air kecil, aku (akan) ...✓ Setelah menyiram kloset, aku (akan) ...✓ Setelah dzikir setelah shalat Subuh, aku (akan) ...✓ Setelah pulang dari masjid shalat Subuh berjamaah, aku (akan) ...✓ Setelah dzikir pagi, aku (akan) ...✓ Setelah mandi, aku (akan) ...✓ Setelah menggosok gigi, aku (akan) ...✓ Setelah menyeduh kopi, aku (akan) ...✓ Setelah sarapan, aku (akan) ...✓ Setelah cuci piring, aku (akan) ...✓ Setelah menyalakan mesin cuci, aku (akan) ...✓ Setelah memberi makan burung, aku (akan) ...✓ Setelah memanaskan mesin sepeda motor, aku (akan) ...✓ Setelah memasukkan kunci kontak ke mobil, saya (akan) ...✓ Setelah ... dst
Rutinitas Tengah Hari atau Waktu lain
✓ Setelah memberi komentar pada grup aplikasi medsos, aku (akan) ...✓ Setelah minum secangkir kopi, aku (akan) ...✓ Setelah pulang dari masjid untuk shalat Zhuhur, aku (akan) ...✓ Setelah minum sehabis makan siang, aku (akan) ...✓ Setelah dari kamar mandi, aku (akan) ...✓ Setelah ... dst
Rutinitas Malam Hari
✓ Setelah masuk ke rumah sepulang kerja, aku (akan) ...✓ Setelah menaruh atau menggantung kunci kendaraan, aku (akan) ...✓ Setelah meletakkan tas, aku (akan) ...✓ Setelah duduk untuk makan, aku (akan) ...✓ Setelah mencuci piring, aku (akan) ...✓ Setelah meletakkan kepala di bantal, aku (akan) ...✓ Setelah .... dst
Tambatan harus merupakan kejadian yang detail. Tambatan yang tidak jelas, seperti "Setelah makan malam" atau "Setiap kali aku galau", dan sebagainya tak akan berhasil. Kita mesti membuatnya mendetail.
Dimana Kebiasaan baru - Belajar dan Menulis - bisa masuk secara alami terselip setelah Tambatan?
Ada 3 hal yang harus dipertimbangkan:
✓ Cocokan lokasi fisiknya
Pertimbangkan lokasi fisik kebiasaan baru kita, yakni Belajar dan Menulis. Maksudnya;
Temukan Tambatan yang sudah ada di lokasi tempat kita ingin menumbuhkan kebiasaan tersebut.
Jika kebiasaan Belajar dan Menulis yang kita ingin tumbuhkan,
- sedang Tambatannya shalat Subuh,
- mungkin bisa kita lakukan di masjid, ketika setelah selesai dzikir.
- Atau kalaupun setelah pulang dari masjid, maka Tambatannya mesti lebih detail, misalkan;
Setelah masuk rumah pulang dari masjid untuk shalat Subuh, aku (akan) Belajar dan Menulis.
Atau,
Setelah menggantung jubah pulang dari masjid untuk shalat Subuh, aku (akan) Belajar dan Menulis.
Kita ingin menetapkan suatu Tambatan di suatu lokasi, sedangkan kebiasaan baru kita di lokasi lain, boleh jadi ini jarang berhasil. Lokasi termasuk faktor penting dalam memasangkan Tambatan dengan kebiasaan baru kita.
Dan,
- jika lain lokasi seperti contoh di atas, kita pastikan jeda waktu perpindahan kita antara lokasi Tambatan dan lokasi kebiasaan baru, dalam hal ini Belajar dan Menulis, singkat.
- Dan, ditambah Tambatannya sangat detail untuk menghindari kegagalan.
✓ Cocokkan frekuensinya
Berikutnya,
✓ berapa kali kita ingin melakukan kebiasaan Belajar dan Menulis. Satu kali saja dalam sehari, atau ingin berapa kali? Tentunya, ini bisa memilih Tambatan yang sesuai.
- Jika sekali, mungkin tidak harus Tambatan shalat fardhu yang lima waktu, bisa yang lainnya, misalkan setelah mandi.
- Jika beberapa kali saban hari, maka pilih Tambatan yang sejenis beberapa kali dalam sehari, seperti shalat lima waktu tersebut.
✓ Atau bisa juga melihat Tambatan yang kita tetapkan, apakah bisa dilakukan berapa kali? Seperti Tambatan shalat fardhu, itu ada lima waktu dalam sehari, apakah mungkin 5 kali kita pakai semua? Atau hanya kita pakai waktu setelah shalat Subuh, dan setelah shalat Isya, misalkan.
Penentuan frekuensi kebiasaan baru, tergantung kondisi kegiatan masing-masing diri kita saban harinya. Gunakan semaksimal kita sesuai kemampuan, yang penting cari;
- kemudahan
- dan yang menyenangkan.
✓ Cocokkan tema atau tujuannya
Faktor ini tak sepenting dua faktor di atas. Namun, Tambatan yang terbaik adalah yang memiliki tema dan tujuan yang sama dengan kebiasaan baru tersebut.
Contoh Tambatan yang sama tetapi mempunyai efek yang berbeda bagi orang yang berlainan, sehingga kebiasaan barupun yang setema dan setujuan pun berbeda:
✓ Kalau kita menganggap kopi dan semburan kafeinnya, sebagai cara untuk lebih produktif, ini mungkin akan menjadi Tambatan yang bagus untuk Belajar dan Menulis, fokus pada bahasan ilmiah, yang butuh kemampuan kognitif atau rasio yang kuat.
✓ Namun, jika kopi merupakan lebih cocok untuk relaksasi bagi kita, maka mungkin kebiasaan yang setema, seperti; membaca buku. Karena lebih ringan dari pada bahasan ilmiah.
Contoh Tambatan yang tidak setema dan setujuan, seperti;
✓ Setelah menggosok gigi, aku (akan) Belajar dan Menulis di perpustakaan pribadi di rumah. Ini hampir-hampir tidak berhasil, karena pasangan tersebut tidak memiliki kecocokan baik secara lokasi, frekuensi ataupun tema.
Jika kita,
- ingin Belajar dan Menulis di perpustakaan pribadi, setiap sebelum waktu Subuh misalnya,
- maka carilah rutinitas yang sudah ada dan setema - misal rutinitas menyampul atau merawat buku, di lokasi yang sama (idealnya di perpustakaan pribadi), sebagai Tambatan.
Ketika mendesain kebiasaan Belajar dan Menulis kita,
- jangan terlalu menginginkan kesempurnaan.
- Jika desain tesebut tak sesuai dengan keinginan kita, ubahlah.
- Kita harus merasa bebas untuk memodifikasi ciptaan-ciptaan kita, entah itu Tambatan, atau yang lainnya.
Jadi, kita ingat kembali rumusnya:
✓ Aku (akan) ...: Perilaku Kecil,rutinitas yang ada dalam kehidupan kita yang akan mengingatkan kita untuk melakukan Perilaku Kecil (kebiasaan baru kita).
✓ Lalu aku mengucapkan, "Alhamdulillah.":kebiasaan baru yang kita inginkan, tetapi kita telah menguranginya menjadi sangat kecil, dan sangat mudah.
Peringatan Bersyukur, maka timbul perasaan positif, senang, tenang dan tenteram karena telah berhasil melakukan suatu kebiasaan baru yang baik.
Pada bahasan berikutnya, kita akan bedah trik-trik yang lebih detail, dalam Pemicu dari Tindakan ini.
***
Atau, follow/mengikuti posting Mendesain Kebiasaan Belajar Ilmu Syar'i dengan Menuliskannya, TAP /KETUK
Posting Komentar untuk "#23 Tambatan"
Posting Komentar